Jauh di kedalaman tanah, empat orang wanita berdiri menghadap seorang wanita yang menjadi pimpinan mereka.

"Nyonya Mira, apakah Anda sudah menemukan posisi mereka?" suara seorang penyihir terdengar gusar, kedua alisnya berkerut. Mereka telah menunggu terlalu lama. Seharusnya, menurut rencana, serangan ke keluarga Baihuan sudah dilancarkan dan fragmen pedang iblis direbut. Dengan kekuatan dua belas zodiak yang Mira miliki, kemenangan seharusnya mudah, namun ramalan tentang kematian membuat Mira memilih menunggu momen yang tepat.

Mira tidak mengalihkan pandangannya dari bola kristal di depannya. Kilau samar di permukaannya memantulkan bayangan wajahnya yang dingin. Jari-jarinya yang ramping membelai bulu kucing hitam yang meringkuk di pangkuannya, gerakannya tenang namun menyimpan ancaman. "Pemuda itu menyembunyikan Suku Surya dengan energi murninya. Jejak mereka lenyap, tapi ramalan jelas menunjukkan mereka ada di benua Beihan." Suaranya datar, namun mengandung keyakinan yang tak tergoyahkan.

Keheningan menyelimuti ruangan, hanya terdengar dengusan lembut kucing hitam di pangkuannya. Lalu bibir Mira melengkung membentuk senyum yang membuat udara seolah mengerut. "Sekarang, pemuda itu pasti mulai menyesali pilihannya," ucapnya pelan, namun setiap kata membawa getaran dingin. "Ribuan penduduk Surya yang ingin dia selamatkan… justru mati di tangannya sendiri. Tanpa penawar, tubuh mereka menjadi santapan empuk bagi parasit yang kita tanamkan."

Tawa Mira pecah, bergema di setiap sudut ruangan. Suaranya melengking lembut namun penuh keangkuhan, seperti lonceng perak yang membangunkan mimpi buruk.

***

Di laboratorium, Lynx masih memikirkan rencana Lala untuk memasang satelit di dunia kultivator. Dia harus memikirkan dampak perbuatannya dengan mengambil satelit milik dunia lain.

"Lynx, aku ingin kamu lihat ini," ujar Lala dengan suara penuh antusiasme, sambil memamerkan sebuah gambar yang muncul jelas di layar monitor di depannya. Tangannya lincah bergerak di udara, mengendalikan kontrol tampilan layar dengan sangat mahir seolah sudah menjadi kesatuan dengan kontrol tersebut.

"Apa ini? Robot?" tanya Lynx dengan tatapan mata yang penuh rasa ingin tahu dan sedikit keheranan. Gambar yang diperlihatkan oleh Lala tampak seperti sosok karakter superhero yang pernah ia tonton berkali-kali di televisi saat di dunianya. Detailnya begitu hidup, membuat Lynx sulit untuk tidak terpikat.

"Ini adalah salah satu rancangan pakaian tempur milik komandan Vex, dengan inisial kesatria W. Aku menemukannya di laboratorium saat memeriksa daftar proyek yang sedang mereka kerjakan," jelas Lala sambil tersenyum lebar, penuh semangat. "Sepertinya mereka baru mulai mengerjakan proyek ini, karena banyak komponen kekuatan di dalamnya masih belum terpasang dan jelas masih banyak yang perlu diperbaiki."

Lynx mengerutkan alisnya, menatap Lala dengan bingung, "Lalu? Kenapa kamu terlihat sangat senang?"

"Huh, apa yang kamu tahu soal ini? Selain meneliti penduduk, aku juga merombak pakaian tempur ini supaya bisa menggantikan pakaian tempurmu yang, jujur saja, terlihat agak norak," jawab Lala sambil tertawa kecil, menutup mulutnya dengan tangan agar tidak terlihat tertawa lebar.

"Norak? Jadi kamu bilang pakaianku norak?" Lynx memandang Lala dengan ekspresi tak percaya dan sedikit kesal.

"Pakaian itu bekas milik Kael, dan di duniaku itu cuma pakaian tempur biasa. Jutaan prajurit menggunakan pakaian seragam itu, jadi aku nggak pernah tertarik melihatnya. Makanya aku ingin membuatkan kamu sesuatu yang baru dan jauh lebih keren," jelas Lala dengan semangat yang terpancar dari matanya.

Lynx menatap layar monitor dengan dada yang berdebar-debar. Di sana terlihat jelas gambar pakaian tempur yang mirip robot futuristik, dengan tubuh yang terbagi dua warna, separuh berwarna hijau zamrud, dan separuh lain berwarna hitam pekat. Jika di dunianya, sosok itu hanyalah karakter kartun superhero favorit yang menceritakan tentang dua pria detektif yang bergabung menjadi satu superhero kuat saat melawan monster. Namun di dunia Lala, rupanya mereka berusaha mewujudkan karakter itu menjadi nyata. Bahkan kata “berubah” yang Lynx ucapkan saat menjadi Plasura terinspirasi dari film tersebut.

"Kamu sudah paham maksudku, kan? Pakaian tempur ini sudah aku modifikasi khusus untuk kamu, seperti halnya baju tempur milik Kael," ujar Lala dengan wajah cerah penuh kebanggaan. "Aku sudah membuang semua komponen yang tidak diperlukan, karena aku tahu kamu hanya membutuhkan bentuknya saja. Kekuatanmu jauh lebih besar dari pakaian tempur itu sendiri. Jadi kamu tinggal buat formasi ilusi seperti yang kamu lakukan dengan baju tempur satunya."

Lynx menganggukkan kepala dengan penuh semangat, matanya berbinar-binar. Ia tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya, seperti anak kecil yang mendapat mainan baru yang sangat dinantikan. "Kapan aku bisa pakai?"

Lala melemparkan sebuah artefak kecil berbentuk logam baja seukuran kepalan tangan bayi, "Tapi kamu harus kasih aku hadiah dulu untuk ini."

"Sudah jadi?" Lynx memegang artefak itu dengan dada berdebar-debar, penuh rasa tak sabar. "Bagaimana cara memakainya?"

Lala menunjuk ke pinggang Lynx, "Lepaskan sabuk lamamu, lalu ganti artefak lama dengan artefak baru ini. Setelah itu, lakukan seperti biasa."

Tanpa ragu, Lynx mengikuti arahan Lala. Ia mengalirkan qi spiritual ke artefak tersebut.

Dalam sekejap, sabuk berbentuk artefak di pinggangnya aktif saat menerima energi qi spiritual. Sabuk itu berubah menjadi merah menyala, memancarkan cahaya berdenyut dengan intensitas yang luar biasa. Dari sabuk itu, serat-serat nano partikel bercahaya dengan dua warna berbeda mulai mengalir sangat cepat, menutupi seluruh tubuh Lynx. Serat nano berwarna hijau zamrud mengalir menutupi tubuh bagian kanan, sementara serat nano hitam pekat menganyam tubuh bagian kiri, seolah-olah menjalin dirinya sendiri menjadi sebuah armor hidup.

Armor tersebut menutup tubuh Lynx secara simetris, membagi dua warna dominan yang kontras: hijau di sisi kiri dan hitam pekat di sisi kanan. Tekstur lapisan armor tampak sangat halus, aerodinamis, dan penuh dengan pola-pola yang menyerupai formasi energi, menyesuaikan lekuk otot Lynx dengan presisi tinggi. Bagian dada, bahu, dan lengan menonjol dengan tonjolan dan garis-garis tegas yang menghiasi permukaannya. Sebuah huruf P keemasan terukir indah di dada sebelah kiri.

Kepalanya tertutup helm dengan desain sangat khas. Mata helm berbentuk bulat memanjang berwarna merah menyala, menambah kesan menakutkan sekaligus futuristik. Di tengah tubuh hingga kepala, terdapat garis metalik yang membelah tubuhnya menjadi dua sisi yang kontras, memperkuat kesan simetri dan kesatuan energi yang mengalir dalam dirinya.

Di pergelangan tangan dan kaki, terdapat gelang bermotif rumit yang menyatu dengan armor lengan dan kaki, memberikan dukungan energi tambahan sekaligus menambah kesan kekuatan armor yang tak tertandingi.

Desain motif pada armor dan helm itu menciptakan kesan keselarasan energi mistis yang terintegrasi sempurna dengan tubuh Lynx, membuatnya bukan sekadar baju tempur biasa, tapi wujud nyata dari kekuatan dan kemegahan yang ia miliki.

"Wah, kamu kelihatan jauh lebih keren dari sebelumnya," ucap Lala sambil menatap kagum sosok Lynx yang telah sepenuhnya berubah. Dibandingkan dengan pakaian tempur lamanya yang terbuat dari logam fleksibel namun tetap terlihat kaku dan suram, desain lama itu memang tidak mencolok karena hanya berupa baju tempur prajurit dengan helm biasa. Di dunianya, tampilan seperti itu tidak akan pernah menarik perhatian siapa pun. Tapi kini, dengan armor baru yang menggabungkan teknologi dan estetika tingkat tinggi, Lynx tampak seperti pahlawan dari dimensi lain yang siap mengguncang setiap dunia yang ia datangi. Penampilannya meninggalkan kesan kuat, seolah siapa pun yang melihatnya tidak akan mudah melupakannya.

Lynx menatap bayangannya sendiri di kaca besar yang berada di sisi ruangan. Di balik helm yang menutupi seluruh wajahnya, bibirnya melengkung membentuk senyuman lebar. Ada sorot bahagia dalam tatapannya, seakan impian masa kecil yang selama ini terkubur dalam kenangan kini akhirnya terwujud di hadapan mata.

Ia mulai menggerakkan tubuhnya. Melompat ringan ke udara, menghantam angin dengan tinjunya, lalu melakukan beberapa gerakan tendangan beruntun. Gerakannya luwes dan cepat, seolah tidak ada satupun bagian armor yang menghambat. Segala detail armor menyesuaikan dengan aliran qi dan kekuatan ototnya.

Namun saat ia tengah menikmati fleksibilitas dan sensasi luar biasa dari pakaian tempur barunya, sebuah teriakan tajam menghentikan semua itu.

"Lala, menunduk!"

Sebuah suara perempuan terdengar tegas dan tiba-tiba dari arah pintu masuk.

Lynx bahkan belum sempat mengalihkan pandangannya ketika sosok bayangan bergerak secepat kilat dan langsung melesat ke arahnya. Refleksnya muncul secara alami, tangannya bergerak untuk menahan serangan namun tepat sebelum dia bergerak, ia terhenti karena melihat dengan jelas siapa penyerangnya.

Itu Leena.

DUARR!!

Tendangan keras menghantam dada Lynx dan melemparkannya ke belakang. Tapi sebelum tubuhnya menyentuh dinding dan menghancurkan seperangkat alat penelitian penting milik Lala, Lynx menghentikan momentumnya. Ia membalik di udara, menginjak dinding dengan ringan, lalu meluncur kembali ke depan, berdiri tepat di hadapan Leena.

"Sayang, kenapa kamu tiba-tiba nyerang aku?" tanya Lynx dengan nada dongkol, matanya menyipit di balik helm, dan nadanya sarat protes. Ia merasa Leena terlalu impulsif, terlalu ganas, tidak memberi waktu bahkan satu detik untuk mengamati siapa yang ada di hadapannya.

"Gimana kalau yang pakai armor ini cuma orang biasa? Bisa langsung mati dipukul dia," batin Lynx sambil menghela napas berat.

"Aku cuma pengen uji coba," jawab Leena santai. Ia menyeringai kecil, ekspresinya polos seolah baru saja melakukan sesuatu yang sangat wajar. "Pengen jadi orang pertama yang mukul kamu waktu pakai pakaian tempur baru."

